Poster Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi , adakah yang kita persiapkan untuk menyambut tamu agung yang mulia itu , yuk sambut dengan Poster Ramadhan yang membuat si kecil ceria , ayah dan bunda pun gembira  :

Bubble

Design : Ramadhan in Polkadot

Size      : 100 x 50 cm

Harga : Rp 45.000

Balon

Design   : Ramadhan with Ballon

Size         : 10o x 50 cm

Harga    : Rp 45.000

dan masih banyak lagi design yang lain

for order hubungi 0815-14535209 Rida

Ramadhan tinggal sehasta

aku tahu
ramadhan tinggal sRamadhanehasta
indah gerbangnya seperti melengkung cakrawala
terlingkar mawar wangi kesturi

dan salsabila setiap lengkungnya
hanya sehasta kawan
aku tahu detik-detik ini begitu berharga
bila pagi masuk,
aku berharap senja kehingga
dan bila senja tiba aku bertanya dalam hati
esok pagi akankah aku berjumpa
aku tahu ramadhan tiba
sehasta saja jaraknya
tapi rasa takut itu menyelubungi jiwa
menjalar rapat
berhimpit-himpit diantara nadi dan aorta
aku takut tidak bersua dengan puasa
karena izrail dan bukunya tiba
bulan itu sehasta saja jaraknya kawan

by anonim

Mengais cinta dibulan penuh Makna

Mungkin sudah sering ku tanyakan alasannya mengapa tidak suka menunggu didalam sambil melihat lihat isi supermarket atau apalah tapi lagi lagi jawaban nya “ tidak apa apa aku kurang terlalu suka saja “katanya.

Hingga suatu hari dipekan pertama Ramadhan ketika ia tengah asyik mengisi  agenda Ramadhannya .. dia menyusulkan untuk beriftor ditempat tidak biasa menurutnya lebih asyik dia mengajak ku  kesana dengan membawa bekal yang banyak tentunya tapi dia merahasikan nama dan lokasinya  tempat yang ingin kami kunjungi .

Dan hari itu kami berbelanja disalah satu supermarket , kali ini dia menemani aku masuk dan berbelanja , dia tampak sibuk memilih  di rak makanan, menghitung jumlah isi , mencari apakah ada rasa yang lain dsb wah ..kali ini malah dia yang tampak antusias ..al hasil kami keluar supermarket dengan keranjang yang penuh.. Allhamdulillah

Tibalah hari yang dinanti dengan perbekalan yang cukup banyak , kami  bersiap untuk berangkat namun ketika langkah kami terhenti karena mendung hitam menggantung di angkasa  pertanda hari akan segera turun hujan . aku sempat ciut karena rencana untuk iftor ke tempat rahasia akan tertunda namun ia menyakinkan aku bahwa hujan tidak akan turun  sesampai kita disana . begitu yakinnya dia genggam jemari ini . kami memutuskan untuk berangkat ditengah langit mendung  yang hitam pekat  bersama motor suami ku , motor ini yang sudah 7 tahun menemani hari2 suami  lebih dari aku usia aku mengenal suami ku .

Jalan sepi disela angin yang menerbangkan sampah plastik dan daun kering , kami melaju diatas roda dua membelah jalan pasar rebo lurus kearah terminal kampong rambutan belok melewati mesjid Attien belok lagi melewati mall tamani lalu masuk ke arah jalan pondok gede, rumah sakit haji, lubang buaya ..dan berliku2 hingga aku bosan untuk bertanya lagi “ ini dimana , Bi ? “ ini daerah mana ? “ toh ia akan terus menjawab meski aku lelah bertanya terus .

Hingga tibalah kami disebuah bangunan besar , rumah panjang dengan rumput hijau disisi kanan dan kirinya  , bunga2 yang dirawat apik ,sebuah ayunan menjadi titik central di taman ini . aku sempat bertanya dalam hati “tempat apakah ini ?” siapakah yang akan kami kunjungi disini ..suasana sepi di pojok kanan tampak beberapa orang bermukena putih sedang bertadarus  di musholla kecil ..lrih kudengar al quran di baca , tiba tiba ada suara kecil yang mengangetkan aku …”Pak Maliki ya ?? tangan kecil itu menyapa sambil mengulurkan tangannya kea rah suami ku sambil malu2 lalu suami ku menyambutnya dengan senyum disertai pertanyaan “Put,shaum ga ? “ si gadis kecil itu menjawab “ Allhamdulillah Pak aku blm kalah “ jawabnya manja . suami membelai kepala gadis usia 7 tahunan itu . kemudian tak selang 3 menit ada 1,2, 3,4,5, 6,7 dan..masih banyak lagi anak2 kecil yang merebungi suamiku .

Aku baru saja tersadar bahwa ini adalah panti asuhan  anak anak yang pernah dikelola suamiku 2 tahun lamanya  dan hal ini tidak pernah sebelumnya dia sampaikan padaku , anak anak yang ditampung disini adalah kebanyakkan anak yatim yang diambil dari pinggiran jakarta atau anak2 yang berasal dari keluarga ekonomi lemah, mereka tinggal dan sekolah disini  gratis karena Allhamdulillah banyak uluran tangan dari pelbagai pihak untuk membantu pembiayaan di Panti asuhan yang dikelola secara swadaya .

Maka jadilah hari itu kami berbuka puasa dengan anak anak dipanti asuhan itu , Allahmdulillah bekal yang kami bawa dapat mencukupi acara senja itu , walaupun sederhana namun lebih terasa nikmat kala berbagi bersama .

Sesaat suami ku tersenyum di balik pintu ruang makan besar tempat kami dan anak anak berkumpul “ inilah tempat rahasia itu , tempat belajar menaburkan kebahagian” gerimis turun membasahi rumput rumput di pekarangan yang di Tanami bunga bunga kecil ….hati ku pun gerimis , gerimis oleh kebahagian yang menyelimuti hati ku ..ada banyak cinta disini yang harus dirawat dan dijaga keberadaannya …

suamiku  … semoga Allah menyuburkan cinta kita …amien

Taken from: www.nadareeda.multiply.com

Palestina, Bagaimana Aku bisa melupakanmu

Ketika
rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika
luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas
mereka.

Ketika
kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi air mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika
anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan
batu cuma, lalu dipatahi pergelangan
tangan dan lengannya, siapakah yang tak
menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang
dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda
mereka yang patah akan bertaut dan mengulur
kan rantai amat panjangnya, pembelit leher
lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

‘Allahu Akbar!’
dan ‘Bebaskan Palestina!’

Ketika
pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

.:Taufiq Ismail:.

Mencetak Generasi Qurani

Agar Anak Akrab dengan Al Qur’an
Oleh :D ra.Hj.Wirianingsih
Ibu 11 Anak Penghafal Al Qur’an

Ketua PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) Indonesia
Ketua ASA (Aliansi Selamatkan Anak) Indonesia

Membangun keluarga yang mencintai Al Qur’an adalah cita-cita mulia, sebab Al Qur’an adalah firman Alloh yang menjadi pedoman hidup manusia. Sayangnya dari ratusan juta umat Islam di Indonesia, tidak banyak yang memahami, menghafalkan, dan menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup.
Berkaca pada hadits Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang beruntung adalah ketika berhasil menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin. Maka jika sebagai orangtua kita berhasil mendidik anak menjadi akrab dan mencintai Al Qur’an, bahkan lebih baik daripada orangtuanya maka insya Alloh kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Oleh karena itu penting bagi suami-istri untuk berkomitmen menjadikan putra-putri mereka akrab dengan Al Qur’an sejak dini. Lebih-lebih jika ingin mencetak anak menjadi penghafal Al Qur’an (khufadz), sebab usia paling optimal untuk menghafal adalah antara 0-6 tahun atau yang kita kenal dengan golden age yakni saat jutaan sel otak anak tumbuh dengan optimal.

Mulai dari Orangtua
Agar anak akrab dengan Al Qur’an maka orangtua sebagai pendidik harus terlebih dahulu memahami apa itu Al Qur’an, apa saja keutamaannya, serta apa saja kewajiban kita terhadap Al Qur’an. Orangtua sebisa mungkin menghayati perannya, semisal jika ingin mencetak anak menjadi penghafal Al Qur’an maka orangtua rela keliling pulau dalam rangka mencarikan pesantren penghafal Al Qur’an yang terbaik untuk putra-putrinya, juga rela berpisah dengan mereka untuk sementara waktu.
Adapun kewajiban-kewajiban kita terhadap Al Qur’an meliputi tiga hal, antara lain :
1. Membaca Al Qur’an dengan benar
Karena Al Qur’an adalah bacaan sholat, jangan sampai salah membaca sehingga menimbulkan arti yang berbeda, semisal qolbu (hati) dibaca kalbu (anjing), sedikit salah membaca artinya sudah sangat jauh berbeda. Jika ingin putra-putri kita fasih membaca atau menghafal Al Qur’an, maka lidah harus dibentuk sejak dini (usia 0-6 tahun), yakni saat jutaan sel otak anak tumbuh membentuk jaringan. Mengenai hal ini Rosululloh SAW pernah menuturkan bahwa beliau sungguh beruntung telah dibesarkan di tengah-tengah Bani Sa’ad yang paling fasih bahasa Arab-nya.
2. Menghafalkannya
3. Memiliki ilmunya
Dua per tiga Al Qur’an terdiri atas kisah-kisah yang disampaikan Alloh supaya bisa dijadikan pelajaran sehingga tidak melakukan kesalahan serupa.
4. Mengamalkannya
5. Menyebarluaskannya
Agar anak akrab dengan Al Qur’an maka orangtua juga harus terlebih dulu gemar dan akrab dengan Al Qur’an. Lebih-lebih bagi sang ayah, karena kisah sukses membangun keluarga qur’ani selalu dimulai dari keteladanan ayah sebagai decision maker (pengambil keputusan) dalam keluarga. Usahakan bagi para ayah untuk tidak beranjak dari masjid sebelum menyelesaikan satu juz Al Qur’an setelah sholat shubuh. Seorang ayah juga wajib mencarikan nafkah yang halal untuk istri dan anak-anaknya, sebab jika sampai masuk sesuatu yang syubhat maka doa tidak akan diijabah selama 40 hari.

Untuk mencetak generasi yang akrab dengan Al Qur’an maka orangtua harus memiliki visi qur’ani terhadap anak dan keluarganya, bersungguh-sungguh memenuhi komitmen tersebut, serta mampu bekerjasama secara sinergis. Barangkali kita bisa mencontoh keluarga Imron, Nabi Yakub AS, atau Ibrahim AS yang kisahnya telah diabadikan dalam Al Qur’an. Lagi-lagi figur ayah dituntut untuk menjadi teladan, sebab ayah bertanggungjawab menentukan peta keluarga. Anak-anak sejak lahir telah membawa syahadat, orangtua lah yang kemudian meneruskan mau dijadikan apa anak-anaknya. Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab RA ada seorang anak yang mengadukan perihal ayahnya, “Ayahku tidak memenuhi hakku, dia tidak mencarikan aku ibu yang baik, tidak mencarikan aku nafkah yang baik, juga tidak mengajariku ilmu agama”. Umar membenarkan pengaduannya serta menegur ayah dari anak tersebut.

Mulai dari Rumah
Rumah adalah madrasah pertama putra-putri kita, oleh sebab itu penting untuk mengkondisikan rumah ‘akrab’ dengan Al Qur’an. Mulai dari murottal setiap hari, tidak ada gambar-gambar syubhat atau yang dilarang, memasang kaligrafi ayat-ayat, menciptakan situasi bacaan-bacaan Islami, musik-musik Islami (nasyid), serta menjauhi perkataan dan perbuatan fahisyah. Suasana qur’ani harus dibangun agar anak merasa nyaman.

Biasakan keluarga kita untuk bangun sebelum shubuh, budayakan sholat berjamaah (utamakan di masjid). Selanjutnya upayakan tidak ada kegiatan lain setelah sholat shubuh selain interaksi dengan Al Qur’an yang diakhiri dengan do’a, baru kemudian berlanjut pada aktivitas yang lain.
Sama halnya dengan ba’da shubuh, upayakan tidak ada kegiatan lain ba’da maghrib selain interaksi dengan Al Qur’an kemudian mengkajinya hingga datang waktu Isya.

Lawanlah kebosanan dan kemalasan dengan kegiatan variatif, dinamis, fresh, dan beri penghargaan terhadap setiap usaha putra-putri kita meski sedikit. Selalu dahulukan pujian daripada celaan, semisal ketika anak membawa piring lalu pecah sekali terkadang diomeli habis-habisan padahal ketika anak membawa piring lima kali dan tidak pecah tidak pernah dipuji.
Meskipun anak melakukan kesalahan, orangtua harus menghindari menghukum anak, kalaupun terpaksa maka terapkanlah hukuman yang edukatif. Semisal jika anak telah berumur 10 tahun dan menolak untuk sholat maka boleh dipukul namun dengan pukulan kasih sayang bukan kebencian, itupun hanya boleh dilakukan pada area mata kaki hingga lutut. Jangan menjewer anak, karena telinga terdiri atas syaraf-syaraf yang bisa rusak jika dijewer, selain itu menjewer juga akan melukai hati.
Yang tak kalah pentingnya adalah mengatur dan mengurangi interaksi dengan TV, games di komputer, juga play station. Akan lebih baik jika bisa melibatkan anak dengan aktivitas orangtua terkait interaksi dengan Al Qur’an, lebih bagus lagi jika bisa diprogram.

Mulai dari Sekolahnya
Sekolah juga punya andil dalam membentuk kepribadian dan kualitas anak. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengajak dialog anak, mengarahkan, dan memilihkan sekolah/lembaga pendidikan yang mendukung. Bangunlah komunikasi dan kerjasama yang baik dengan guru dan sekolah. Upayakan untuk memfasilitasi kebutuhan anak, mengarahkan keinginannya, serta membentuk jiwanya sebelum habis waktunya (ketika masuk masa remaja yakni usia 11-15 tahun, adalah jelang berakhirnya masa usia anak).

Mulai dari Teman-Temannya
Jika ingin mengetahui kualitas seseorang, maka perhatikanlah dengan siapa dia berteman, begitu kata Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengontrol teman sepermainan putra-putrinya, dengan siapa dia berteman, dan tanyakan siapa teman dekatnya. Orangtua turut mengarahkan, membimbing, dan membentuk lingkungan teman-temannya. Orantua ikut mengontrol waktu dan tempat bermain dengan teman-temannya. Bisa juga dibuatkan program yang mendukung bersama dengan teman-teman lingkungannya, semisal saat liburan diisi dengan piknik tahfidz qur’an yang dikemas menyenangkan.

Masa anak-anak adalah masa yang penting, karena bagi orangtua mendidik anak itu diibaratkan seperti membentuk keramik. Saat anak masih kecil, dibentuk menjadi apapun akan mudah bagi orangtua untuk mengarahkannya. Namun jika sudah besar, ibaratnya bahan baku (tanah liatnya) sudah kering, sehingga sudah sulit untuk dibentuk, bahkan bisa retak dan pecah jika dipaksa. Lebih-lebih pada seorang anak, yang retak bukanlah fisiknya melainkan jiwanya. Jika yang retak jiwanya, maka anak akan tumbuh menjadi pemberontak yang suka melawan.

Anak adalah milik Alloh, maka terserah Alloh mengamanahkannya pada siapa. Tugas kita sebagai orangtua yang telah diamanahi oleh Alloh anak-anak tersebut adalah merawat dan menjaga nikmat itu dengan memeliharanya. Alloh telah memberi kita satu alat untuk bisa memelihara anak dengan benar, yaitu kasih sayang. Marilah kita senantiasa introspeksi diri, mengawali hari dengan do’a, serta menutup malam dengan evaluasi dan munajat pada Alloh agar selalu diberi kebaikan dan petunjuk-Nya hingga khusnul khotimah. Aamiin ya Robbal alamiin..

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Note :
kemarin saat mengunjungi IBF hari terakhir aku bertemu dengan sang ummi Wi, atau bu wiwi ia biasa disapa , kami hanya saling tersenyum dari jauh ..krn letak yg tak memungkinkan saat itu .
Subhanallah luar biasa sosok ibu ini …

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!